THE POWER OF LOVE
Life to Love People and With Love We Can Live
Tampilkan postingan dengan label shirah. Tampilkan semua postingan

Jangan Ragu Dengan Kebaikan

Sesungguhnya, salahsatu tujuan utama Allah swt dalam penciptaan manusia ialah menjadi 'abd dan menjadi khalifah. Menjadi seorang 'abd, hamba yang senantiasa taat dan patuh pada syari'at Nya, dan menjadi khalifah yang menjaga syi'ar-syi'arnya dan menjaga manusia agar tetap dalam koridor fitrahnya. Namun, sebagai makhluk hidup, pastinya setiap manusia akan mengalami berbagai dinamika kehidupan. Diantaranya adalah menemukan rasa ragu dan takut. Yang menjadi masalah, rasa ragu dan takut ini kerap muncul ketika kita ingin memulai atau melakukan suatu kebaikan namun masih sendiri atau ingin mencoba hal-hal baru agar diri kita belajar namun gengsi dengan kemampuan sendiri. Masalah ragu-ragu, Allah swt memerintahkan kita untuk meninggalkannya. Tapi jelas Allah pun memerintahkan kita untuk menyebarkan benih-benih kebaikan. Pada hakikatnya rasa takut dan keragu-raguan dalam mengerjakan kebaikan muncul dari syaithan yang Allah firmankan dalam surat Al Araf ayat 16 yang artinya "Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus."

Namun, Allah swt memberikan berbagai contoh nyata kepada kita sekalian bagaimana orang-orang mulia sebelum kita Allah kurniakan keteguhan iman karena kesungguhan mereka dalam menegakkan kebaikan. Diantara orang-orang mulia yang Allah berikan nikmat tersebut adalah abul anbiya Nabi Ibrahim As dan sahabat mulia Abu Hurairah Ra.

Bermula ketika Nabi Ibrahim Alaihi Salam mendapat wahyu yang mengakhiri pencariannya terhadap Tuhannya, Allah swt memberikan wahyu yang menguatkan keimanannya pada keesaan Allah swt. Namun, perjalanannya dalam mencari kebenaran justru memasuki babak baru, ia diuji dengan tugas baru, menjadi seorang dai untuk menyebarkan risalah yang Allah turunkan kepada kaumnya yang pada saat itu menyembah berhala. Namun, kaumnya justru menolak risalah yang dibawa oleh Nabi Ibrahim As dan mengingkari ayat-ayat Allah yang diturunkan kepadanya. Akhirnya Nabi Ibrahim membuat sebuah siasat untuk membuktikan kebenaran kepada kaumnya. Suatu saat, ketika penduduk babilonia tengah tidak berada di kota, Nabi Ibrahim pun dengan yakin dan berani menghancurkan patung sesembahan mereka dan Nabi Ibrahim dengan kercerdasan yang Allah karuniakan, ia kalungkan kampak di leher berhala yang paling besar. Ketika penduduk babilonia pulang, mereka langsung mengetahui bahwa tuhan mereka telah hancur dengan sebuah kampak yang tergantung di leher berhala paling besar.

Segera saja Nabi Ibrahim dituduh sebagai tersangka dan Raja Namrudz memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk dibawa kehadapannya. Ketika ditanya Nabi Ibrahim balik bertanya "mengapa kalian menyalahkan saya, padahal kampak tersebut berada di berhala yang paling besar. Apa buktinya saya yang melakukannya?" Sebenarnya kaumnya saat itu mulai berfikir, mana mungkin sebuah berhala dapat melakukan hal itu. Namun, karena hati yang terselimuti kesyirikan terhadap agama nenek moyang, akhirnya raja Namrudz memerintahkan agar Nabi Ibrahim As dibakar hidup-hidup. Nabi Ibrahim as tidak ragu, Ia diikat dan menunjukkan rasa tenang karena Ia yakin bahwa Allah akan menolongnya. Pasukan istana mulai menyusun kayu di bawah nabi Ibrahim untuk dijadikan bahan pembakar. Saat api mulai dinyalakan, dengan keimanan yang kuat terpatri dalam qalbu, ia tidak bergeming dan mundur sedikitpun, hingga saat api mulai akan membakarnya, Allah swt berfirman “Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim”. Seketika api yang menyala-nyala itu menjadi dingin dan Nabi Ibrahim pun selamat karena iman dan tawakkalnya kepada Allah swt. Begitulah cara Allah swt menolong hamba Nya yang bersungguh-sungguh dalam menegakkan kebaikan.

Selain dari kisah keteguhan nabi Ibrahim dalam menyebarkan kebaikan, Allah swt pun menunjukkan sebuah hikmah luar biasa di dalam kisah sahabat mulia Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu. Abu Hurairah adalah seorang dari Bani Daus bin ‘Adtsan yang masuk islam karena seruan dari At Thufail bin Amr Ad Dausi. Setelah keislamannya, Abu Hurairah memutuskan menggunakan seluruh waktunya untuk mengikuti perjalanan dakwah Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dan sahabat-sahabat lain. Namun Abu Huraira tertinggal jauh dalam menghafal.

Ia pun mengeluh bahwa ingatannya lemah dan tertinggal dari sahabat-sahabatnya yang lain. Keluhan Abu Hurairah pun akhirnya sampai di telinga Rasulullah. Kemudian ketika Abu Hurairah berhadapan dengan Rasulullah, Abu Hurairah berdoa: “Allahumma inni as’aluka ilman laa yusa” yang berarti, Ya Allah aku meminta kepadamu ilmu yang tidak lupa dariku. Doa ini diaminkan oleh Rasulullah dan akhirnya hanya dalam kurun waktu 3 tahun Abu Hurairah menjadi periwayat hadits terbanyak yaitu 5374 Hadits dimana jumlah ini mengalahkan hafalan hadits sahabat-sahabat yang lebih dulu bersama Rasulullah.

Dua kisah tersebut mengajarkan kepada kita untuk percaya dengan apa yang kita kerjakan selama itu baik dan benar. Nabi Ibrahim as mencontohkan sikap tenang dan tawakkal meskipun Ia dibakar, karna ia tahu bahwa tentunya Api neraka akan lebih panas dari apa yang akan ia rasakan. Kemudian Abu Hurairah dengan perjuangannya, semangatnya, kesungguhannya untuk mempelajari Islam memotivasi kita bahwa dalam menimba ilmu bukan alasan seseorang memiliki kecerdasan yang kurang baik, namun jadikanlah keterbatasan itu menjadi semangat yang menggelora, dengan niat yang kuat dan tulus dan diiringi dengan tawakkal kepada Allah Subhana Wata’ala, Insyaallah Allah akan melancarkan dan memudahkan.

Dua kisah tersebut juga patut diterapkan dalam dikehidupan kita sehari-hari dan diyakini bahwa sesungguhnya tiada peristiwa terjadi selain dari kehendak-Nya, tiada kekuatan yang dimiliki tiap makhluk selain kekuatan dari-Nya, dan tiada keberhasilan juga kemenangan selain Ia yang memberikan keberhasilan dan kemenangan itu, Ia lah Zat yang Maha berkehendak (Muridun).
“Laa hawla wala quwwata illa billah”.

Sumber:
http://www.masuk-islam.com/kisah-nabi-ibrahim-as.html
https://almanhaj.or.id/3095-abu-hurairah-radhiyallahu-anhu-pribadi-yang-mengagumkan.html

Sang Penduduk Langit yang Berjalan Di atas Muka Bumi

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka'bah karena Rasullah SAW berpesan "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua."

"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)." (HR. Bukhari dan Muslim)

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do'a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Sumber: "Cerita ini diambil dari buku '20 Kisah Sahabat dan Thabiin' terbitan Qibla karangan Ummuthoriq el khanzo."

Kisah Rasulullah Saw bersama seorang Yahudi

Sebagaimana kita ketahui bahwa Rasulullah saw merupakan salahsatu manusia terbaik, hamba terbaik, makhluk terbaik yang Allah swt utus ke Dunia liyubsyirun naas "membawa kabar dan berita baik untuk manusia. Akhlaqnya, perangainya, kehidupan tidak diragukan lagi, sebagaimana Allah swt berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Saw suri tauladan yg baik bagimu. (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Qs. Al Ahzab : 21)

Banyak sekali kisah yg menceritakan betapa terbuktinya akhlaq Rasulullah saw. Salahsatunya adalah kisah Rasulullah saw bersama seorang Yahudi buta.

Di sebuah pasar di kotaa madinah hiduplah seorang yahudi buta. Setiap hari pekerjaan sang yahudi adalah mengemis sembari mengolok-olok Rasulullah saw dan memberitahukan kepada setiap orang yg memberinya sedekah bahwa Rasulullah adalah pendusta, tukang sihir, penyair, dll.

Hingga pada suatu ketika seorang sahabat memberitahukan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Sontak Rasulullah saw bergegas pergi ke pasar untuk membuktikan, benarkah apa yg dikatakan sahabatnya itu. Sesampainya di pasar, benar saja, Sang Yahudi sedang berteriak-teriak mengolok-olok Rasulullah saw.

Rasulullah bersegera mencari pedagang kurma dan menghampiri sang yahudi. Maka disinilah terjadi percakapan cukup singkat antara mereka berdua. Rasulullah menyapa dengan sebuah pertanyaan "wahai kakek, apakah kau sudah makan ?" Tanya Rasulullah saw. "Belum. Demi Allah aku seharian disini mengemis dan akupun tak tahu apakah uangnya cukup untuk aku belikan makanan." Jawab sang kakek. Lalu Rasulullah saw berkata "maukah jika kau aku suapi beberapa butir kurma ?" "Tentu saja, aku akan sangat senang memakannya."

Lihat, betapa santunnya Rasulullah saw sekalipun kepada orang yg membencinya, yg mengolok-oloknya setiap hari. Lalu diambilnya 1 per 1 kurma, di kunyanya kurma itu oleh Rasulullah saw, lalu jika sudah cukup lembut, Rasul keluarkan kurma itu dari mulutnya yg mulia dan Ia suapkan kepada yahudi itu. Sembari Rasul mengunyah, sang yahudi pun membicarakan keburukan-keburukan dan mengolok-olok Rasulullah saw. Dan itu berlangsung setiap hari hingga ajal menjemput Rasulullah saw.

Setelah Rasulullah saw meninggal, Abu Bakar ra mendatangi putrinya Aisyah ra. Lalu bertanya "wahai putriku, hal apa yg Rasulullah biasa lakukan dan belum aku lakukan ?" Lalu Aisyah ra menjawab "sesungguhnya Rasulullah saw biasa mendatangi seorabg yahudi tua di pasar yg biasa mengolok-oloknya dan menyuapinya kurma." Lalu saat itupun Abu bakar ra langsung pergi ke pasar dan mendatangi yahudi itu. Lalu ia pun melakukan apa yg biasa Rasulullah saw lakukan.

Sang yahudi merasa ada yg berbeda dengan yg biasanya dan ia pun berkata "siapa kau ? Kau bukanlah orang yg biasa menyuapiku ? Kemana orang yg biasa menyuapiku ?" Saat itupun hati abu bakar ra bergetar dan menitikkan air matanya, betapa Rasulullah saw menyuapi seorang yahudi buta yg biasa mengoloknya itu seperti nenyuapi orangtuanya sendiri. Bahkan hibgga sang yahudi sangat mengenali bagaimana Rasul menyuapinya, tingkat kelembutan kunyahannya, dll. Maka Abu bakar pun menjawab "aku adalah abu bakar, sahabat Muhammad ibn Abdullah. Sesungguhnya orang yg setiap hari menyuapimu ialah orang yang kau caci setiap hari. Muhammad, sang Rasul Allah." Lalu kemana Muhammad sekarang ?" Tanya sang yahudi. Kembali abu bakar menitikkan air mata, tak kuat rasanya hatinya untuk mengucapkan bahwa Rasul kini telah tiada. Karena yg ia ketahui Rasulullah akan tetap hidup, cahayanya tak akan redup dalam hatinya. Cintanya tak akan pernah mati meski sang kekasih telah tiada. Abu bakar pun menjawab dengan terisak "Sesungguhnya Muhammad telah wafat." Kini malah sang Yahudi yg menangis di hadapan Abu Bakar ra. Maka saat itu pula sang yahudi bersyahadat dan bertaubat kepada Allah swt.

Dari kisah tadi, setidaknya ada 2 hikmah yg tergambar secara jelas. Yg pertama adalah bagaimana Abu Bakar ra menjadikan cintanya kepada Rasulullah saw melebihi cintanya kepada makhluk lainnya. Dan yg kedua tergambar bagaimana Luar biasanya akhlaq dan perangai Rasulullah saw. Bahkan sahabatnya yg paling dekat dengannya, yg beliau gelari As Shiddiq, mertua beliau pun tidak mampu menyamai akhlaq Rasulullah yg luar biasa mulia. Maka benar apa yg Allah firmankan bahwa Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Tidak hanya muslim dan arab, tapi bagi siapapun, ras apapun, bangsa apapun, golongan apapun, kabilah apapun.

Pertanyaannya sekarang, mampukah kita menjadikan Rasulullah saw sebagai teladan tertinggi kita. Menajdikan cinta kita kepada Allah dan Rasulnya melebihi cinta kita kepada makhluk lainnya ? Sebagaimana sabda Rasulullah saw :
انت مع من احببت
Engkau akan bersama orang yg engkau cintai (H.r. Bukhari muslim)

Semoga Allah swt menbimbing kita untuk terus berikhtiar meneladani Rasulullah saw dan terus mencintai Rasulullah saw sehingga kelak kita akan bersamanya dan bersama para kekasihnya di jannatul firdausnya. Allahumma shalli 'ala sayyidina wa habibinal musthofa Muhammad saw.