THE POWER OF LOVE
Life to Love People and With Love We Can Live
Tampilkan postingan dengan label Ceramah. Tampilkan semua postingan

Kekuatan Orang Mukmin

Ia pemuda biasa. Lahir dari keluarga miskin lagi pengungsi. Ia bermimpi untuk melawan kezhaliman yang mengoyak wajah bumi para Nabi, tanah kelahirannya, sejak pertengahan abad lalu. Suatu hari masih dalam sengatan mimpinya, ia bersama teman-temannya membuat sebuah acara kemah ketangkasan di pantai Gaza. Dan dari sanalah kisah menakjubkan itu dimulai.

Di akhir acara mereka berlomba, mereka saling adu ketahanan. Siapa bisa melakukan head-stand, berdiri dengan kepala dalam jangka waktu terlama, dialah sang pemenang. Sang pemenang berhak digendong bergantian selama perjalanan pulang.

Tiap menit, satu demi satu peserta menyerah. Lalu tinggallah dia sendiri, pemuda itu. Dia masih terus bertumpu di atas kepalanya bahkan sampai beberapa jam kemudian! Gila! Teman-temannya berseru-seru. Tapi tak beranjak. Wajahnya dicobakan untuk tetap tersenyum. Hingga pada satu titik waktu, ia tak tahan lagi. Serasa ada yang meledak di kepalanya. Lalu ia jatuh. Sayangnya saat mencoba bangkit, ia limbung. Ia jatuh lagi. Dan kakinya sulit digerakkan, bahkan serasa tak mampu menahan berat tubuhnya. Hari itu, usianya baru enam belas tahun.

Ia lumpuh di usia remajanya. Tapi mimpinya tak ikut lumpuh. Mimpi itu tetap menyala. Bahkan kian berkobar. Dengan kelumpuhannya ia memilih untuk menjadi guru agama Islam di sebuah sekolah dasar. Dan karena mimpi-mimpinya yang menjulang, murid-muridnya tersengat. Konon, tiap kali ia mengajarkan sesuatu, murid-muridnya bak "terhipnotis". Mereka begitu bersemangat mengamalkan apa yang dikatakannya.

Suatu hari disinggungnya tentang shalat malam. Maka paginya para wali murid memprotes pihak sekolah karena anak-anak mereka jadi begadang semalaman menantikan sepertiga malam terakhir untuk shalat. Suatu hari, disinggungnya pula tentang puasa sunnah. Maka para orang tua kelabakan karena hari-hari berikutnya anak-anak mereka yang masih kecil memboikot sarapan pagi dan makan siang untuk berpuasa. Padahal musim panas begitu dahsyat dengan siang panjang bermandikan matahari.

Duhai kekuatan apakah itu, yang ada pada guru lumpuh itu? Itulah kekuatan jiwa. Begitu kokohnya ia hingga jasad yang rapuh itu bagaikan matahari, bersinar meledakkan. Bertahun-tahun dia dipenjara Israel, sampai manusia pun bertanya apa bahayanya orang tua yang lumpuh penyakitan ini? Dokter-dokter di penjara Israel hampir-hampir menganggapnya laboratorium hidup, karena hari tak berganti tanpa bertambahnya jenis penyakit di tubuh sang singa yang berkursi roda.

Inilah lelaki yang ditakuti Israel. Bukan yang seperti Rambo. Bukan hanya badannya sekekar Ade Rai. Hanya seorang lelaki lumpuh berkursi roda yang bicara pun terbata-bata. Suaranya juga kecil hampir kehabisan bunyi. Tapi kekuatan jiwa itulah, jiwa yang dipenuhi mimpi, keyakinan pada janji ilahi, membuatnya begitu perkasa, begitu berwibawa di hadapan jutaan pasukan bersenjata lengkap berkendara lapis baja. Perkenalkan, namanya Ahmad Yasin rahimahullah.

Apa rahasianya?

Wallahu a’lam..jawaban ringan yang bisa kita berikan adalah karena syaikh amat dekat dengan Allah Ta’ala, sehingga kata-katanya bak suara panglima pasukan di hadapan jutaan segenap pasukannya; didengarkan, berwibawa dan penuh kharisma.

Lantas apa sarana agar kita dekat dengan Allah?

Jawabannya adalah membaca, merenungi, mengkaji surat cinta-Nya, yaitu Al-Qur’an.  “Kalian” kata Khabbab bin Art radhiyallahu anhu, seorang shahabat, “tak kan pernah mendekat kepada Allah dengan sesuatu yang lebih Dia cintai daripada kalam-Nya.” Inilah rahasia itu.

Ada satu kisah menarik yang diceritakan oleh seorang rekan perihal Ahmad Yasin ini rahimahullah. Rekan kita ini menceritakan bahwa Ustadz Fahim beserta rombongan (sekitar 4 orang) pernah berkunjung ke Palestina, dan kebetulan bertemu dengan menantu syaikh Ahmad Yasin. Maka ustadz Fahim beserta rombongannya ini diminta untuk berkenan berkunjung ke rumah mertuanya. Setibanya di rumah, dan berbincang-bincang sejenak, si ustadz dan rombongan diajak melihat sebuah kamar yang sederhana. Menantu syaikh Ahmad Yasin kemudian bertanya, ‘Tahukah kalian kamar siapakah ini?’ Rombongan itu serempak menjawab, ‘Tidak.’ ‘Ini adalah kamar mertua saya, Ahmad Yasin.’ Katanya. Kemudian ia melanjutkan, ‘Lihatlah Al-Qur’an yang ada di meja itu. Ahmad Yasin membaca Al-Qur’an sebanyak 3 JUZ setiap harinya.’

Tidak ada seorang pun yang mendengar kesaksian itu kecuali tertakjub kepada syaikh Ahmad Yasin. Karena untuk berpindah dari satu lembarnya, syaikh Ahmad Yasin harus menggunakan mulutnya untuk membaliknya; sungguh, sebuah tamparan keras bagi kita semua.

Ini mungkin rahasia kenapa seorang Ahmad Yasin menjadi orang yang paling ditakuti musuh-musuh Islam. Kekuatan itu adalah kekuatan jiwa yang ada di dalam hatinya, dan itulah kekuatan yang sebenarnya dalam diri orang Mukmin.

Ibnul Jauzi dalam bukunya, Shifatus Shafwah, dengan sangat baik hati menyebutkan, kata Syumait bin Ajlan yang menjadi bukti bahwa sejatinya kekuatan orang mukmin ada di hatinya, bukan pada anggota badannya.

يَقُوْلُ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ قُوَّةَ الْمُؤْمِنِ فِيْ قَلْبِهِ وَلَمْ يَجْعَلْهَا فِيْ أَعْضَائِهِ، أَلَا تَرَوْنَ أَنَّ الشَّيْخَ يَكُوْنُ ضَعِيْفًا يَصُوْمُ الْهَوَاجِرَ وَيَقُوْمُ اللَّيْلَ وَالشَّابُّ يَعْجِزُ عَنْ ذَلِكَ.

Syumaith berkata, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan kekuatan orang mukmin ada pada hatinya, tidak pada anggota badannya. Tidakkah kalian melihat orang tua yang lemah, dia mampu berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari sedangkan pemuda tidak bisa melakukannya.”
(Shifatus Shafwah : III/341).

Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga pernah berkata,

ما رأيت شيئا يغذي العقل والروح ويحفظ الجسم ويضمن السعادة أكثر من إدامة النظر في كتاب الله تعالى -----ابن تيمية

“Aku tidak melihat sesuatu yang bisa memberikan nutrisi kepada akal dan ruh, menjaga jasad dan menjamin kebahagiaan melebihi memperbanyak mengkaji Al-Qur’an.”

Sumber : Jalan Cinta para Pejuang, Shifatus Shafwah dan cerita seorang kawan.

Jangan Ragu Dengan Kebaikan

Sesungguhnya, salahsatu tujuan utama Allah swt dalam penciptaan manusia ialah menjadi 'abd dan menjadi khalifah. Menjadi seorang 'abd, hamba yang senantiasa taat dan patuh pada syari'at Nya, dan menjadi khalifah yang menjaga syi'ar-syi'arnya dan menjaga manusia agar tetap dalam koridor fitrahnya. Namun, sebagai makhluk hidup, pastinya setiap manusia akan mengalami berbagai dinamika kehidupan. Diantaranya adalah menemukan rasa ragu dan takut. Yang menjadi masalah, rasa ragu dan takut ini kerap muncul ketika kita ingin memulai atau melakukan suatu kebaikan namun masih sendiri atau ingin mencoba hal-hal baru agar diri kita belajar namun gengsi dengan kemampuan sendiri. Masalah ragu-ragu, Allah swt memerintahkan kita untuk meninggalkannya. Tapi jelas Allah pun memerintahkan kita untuk menyebarkan benih-benih kebaikan. Pada hakikatnya rasa takut dan keragu-raguan dalam mengerjakan kebaikan muncul dari syaithan yang Allah firmankan dalam surat Al Araf ayat 16 yang artinya "Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus."

Namun, Allah swt memberikan berbagai contoh nyata kepada kita sekalian bagaimana orang-orang mulia sebelum kita Allah kurniakan keteguhan iman karena kesungguhan mereka dalam menegakkan kebaikan. Diantara orang-orang mulia yang Allah berikan nikmat tersebut adalah abul anbiya Nabi Ibrahim As dan sahabat mulia Abu Hurairah Ra.

Bermula ketika Nabi Ibrahim Alaihi Salam mendapat wahyu yang mengakhiri pencariannya terhadap Tuhannya, Allah swt memberikan wahyu yang menguatkan keimanannya pada keesaan Allah swt. Namun, perjalanannya dalam mencari kebenaran justru memasuki babak baru, ia diuji dengan tugas baru, menjadi seorang dai untuk menyebarkan risalah yang Allah turunkan kepada kaumnya yang pada saat itu menyembah berhala. Namun, kaumnya justru menolak risalah yang dibawa oleh Nabi Ibrahim As dan mengingkari ayat-ayat Allah yang diturunkan kepadanya. Akhirnya Nabi Ibrahim membuat sebuah siasat untuk membuktikan kebenaran kepada kaumnya. Suatu saat, ketika penduduk babilonia tengah tidak berada di kota, Nabi Ibrahim pun dengan yakin dan berani menghancurkan patung sesembahan mereka dan Nabi Ibrahim dengan kercerdasan yang Allah karuniakan, ia kalungkan kampak di leher berhala yang paling besar. Ketika penduduk babilonia pulang, mereka langsung mengetahui bahwa tuhan mereka telah hancur dengan sebuah kampak yang tergantung di leher berhala paling besar.

Segera saja Nabi Ibrahim dituduh sebagai tersangka dan Raja Namrudz memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk dibawa kehadapannya. Ketika ditanya Nabi Ibrahim balik bertanya "mengapa kalian menyalahkan saya, padahal kampak tersebut berada di berhala yang paling besar. Apa buktinya saya yang melakukannya?" Sebenarnya kaumnya saat itu mulai berfikir, mana mungkin sebuah berhala dapat melakukan hal itu. Namun, karena hati yang terselimuti kesyirikan terhadap agama nenek moyang, akhirnya raja Namrudz memerintahkan agar Nabi Ibrahim As dibakar hidup-hidup. Nabi Ibrahim as tidak ragu, Ia diikat dan menunjukkan rasa tenang karena Ia yakin bahwa Allah akan menolongnya. Pasukan istana mulai menyusun kayu di bawah nabi Ibrahim untuk dijadikan bahan pembakar. Saat api mulai dinyalakan, dengan keimanan yang kuat terpatri dalam qalbu, ia tidak bergeming dan mundur sedikitpun, hingga saat api mulai akan membakarnya, Allah swt berfirman “Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim”. Seketika api yang menyala-nyala itu menjadi dingin dan Nabi Ibrahim pun selamat karena iman dan tawakkalnya kepada Allah swt. Begitulah cara Allah swt menolong hamba Nya yang bersungguh-sungguh dalam menegakkan kebaikan.

Selain dari kisah keteguhan nabi Ibrahim dalam menyebarkan kebaikan, Allah swt pun menunjukkan sebuah hikmah luar biasa di dalam kisah sahabat mulia Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu. Abu Hurairah adalah seorang dari Bani Daus bin ‘Adtsan yang masuk islam karena seruan dari At Thufail bin Amr Ad Dausi. Setelah keislamannya, Abu Hurairah memutuskan menggunakan seluruh waktunya untuk mengikuti perjalanan dakwah Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dan sahabat-sahabat lain. Namun Abu Huraira tertinggal jauh dalam menghafal.

Ia pun mengeluh bahwa ingatannya lemah dan tertinggal dari sahabat-sahabatnya yang lain. Keluhan Abu Hurairah pun akhirnya sampai di telinga Rasulullah. Kemudian ketika Abu Hurairah berhadapan dengan Rasulullah, Abu Hurairah berdoa: “Allahumma inni as’aluka ilman laa yusa” yang berarti, Ya Allah aku meminta kepadamu ilmu yang tidak lupa dariku. Doa ini diaminkan oleh Rasulullah dan akhirnya hanya dalam kurun waktu 3 tahun Abu Hurairah menjadi periwayat hadits terbanyak yaitu 5374 Hadits dimana jumlah ini mengalahkan hafalan hadits sahabat-sahabat yang lebih dulu bersama Rasulullah.

Dua kisah tersebut mengajarkan kepada kita untuk percaya dengan apa yang kita kerjakan selama itu baik dan benar. Nabi Ibrahim as mencontohkan sikap tenang dan tawakkal meskipun Ia dibakar, karna ia tahu bahwa tentunya Api neraka akan lebih panas dari apa yang akan ia rasakan. Kemudian Abu Hurairah dengan perjuangannya, semangatnya, kesungguhannya untuk mempelajari Islam memotivasi kita bahwa dalam menimba ilmu bukan alasan seseorang memiliki kecerdasan yang kurang baik, namun jadikanlah keterbatasan itu menjadi semangat yang menggelora, dengan niat yang kuat dan tulus dan diiringi dengan tawakkal kepada Allah Subhana Wata’ala, Insyaallah Allah akan melancarkan dan memudahkan.

Dua kisah tersebut juga patut diterapkan dalam dikehidupan kita sehari-hari dan diyakini bahwa sesungguhnya tiada peristiwa terjadi selain dari kehendak-Nya, tiada kekuatan yang dimiliki tiap makhluk selain kekuatan dari-Nya, dan tiada keberhasilan juga kemenangan selain Ia yang memberikan keberhasilan dan kemenangan itu, Ia lah Zat yang Maha berkehendak (Muridun).
“Laa hawla wala quwwata illa billah”.

Sumber:
http://www.masuk-islam.com/kisah-nabi-ibrahim-as.html
https://almanhaj.or.id/3095-abu-hurairah-radhiyallahu-anhu-pribadi-yang-mengagumkan.html

Sabar Tiada Batasnya



Disetiap masa Allah ta’ala  memberikan ujian – demi ujian, mengajarkan kepada kita tentang kesabaran, tentang keteguhan memegang agama dan keimanan, keteguhan menghadapi segala tantangan dan gangguan yang bisa mengusik keimanan kita. Kesabaran menghadapi musibah demi musibah.

Kita seringkali mengatakan bahwa “kesabaran ada batasnya” Tapi sesungguhnya Kesabaran tidak batasnya, karena denganya Allah menguji hambanya. Memilih mana diantara kita yang lulus dan mana diantara kita yang ternyata harus mengulang ujian lagi. Ujian tidak saja berupa bencana demi bencana, karena ujian kadang berupa kepedihan yang tak terperi, kadang pula berupa gembira dan suka cita,. Kadang ujian berupa kemiskinan kadang pula berupa kekayaan dan banyaknya harta benda. Ujian juga berupa ketakutan, kelaparan, dll. sebagaimana firman Allah yang berbunyi…

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 155).

Bahkan kehidupan dan kematian yang datang silih berganti diantara manusia adalah ujian yang akan menunjukkan kepada kita, siapa diantara kita yang terbaik amal ibadahnya. Firman Allah subhanahu wata’ala  
الذي خلق الموتَ والحياةَ ليبوكم أيكم أحسن عملا...
(Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kamu, mana di antara kamu yang paling baik amalnya.

Kesabaran menurut para ulama

Disebutkan dalam kitab Riyadusshalihin bahwa Sabar itu meliputi tiga hal.

(1)   Pertama, sabar dalam ketaatan kepada Allah,
Sungguh jalan ketaatan, jalan akhirat itu indah, jalan akhirat itu membawa mashlahat bagi manusia di dunia dan akhirat mereka.

Sebut saja shalat, disamping ia menjadi kewajiban utama seorang yang beriman kepada Allah ia juga menjadi cara untuk memperoleh ketenangan hati bagi orang-orang yang menegakkannya, Orang-orang yang menegakkan shalat memperoleh fisik yang paripurna, melatih manusia untuk disiplin dan tepat waktu. Bahkan shalat mampu menjauhkan manusia dari perbuatan yang keji dan kotor.

Demikian dengan kewajiban yang lain, seperti puasa, zakat, haji, berjuang di jalan Alloh dan sebagainya. Tapi jalan yang indah itu bagi manusia seakan penuh duri dan tidak disukai hati. Maka disinilah dibutuhkan kesabaran, kalau tidak kita akan melakukannya dengan alakadarnya. Padahal kita harus berusaha untuk selalu antusias dalam beribadah kepada Allah.

(2)   Kedua, sabar dalam menjauhi larangan Allah
Allah ta’ala melarang perbuatan maksiat, perbuatan keji dan mungkar, karena disamping sebagai bentuk pembangkangan kepada Allah, perbuan itu merusak manusia, merusak akal sehatnya, merusak fisik dan merusak spiritualnya.

Tapi kadang jalan yang kotor itu bagi kita terasa indah, penuh mewangi dan membawa keuntungan. Kita harus bersabar untuk terus menjauhinya dan meninggalkannya. Kesabaran menjauhi larangan Allah berarti mengerahkan segenap kekuatan jiwa dengan ikhlas untuk tahan tidak tergoda melakukan larang Allah itu.

(3)   Ketiga, sabar dalam menerima musibah
Inilah kesabaran yang membutuhkan kekuatan ekstra untuk melakukannya. Pernah seorang perempuan di zaman Nabi, menangis tersedu-sedu di sebuah pemakaman. Ia merasa sakit ditinggal mati oleh seorang sangat dicintainya. Hingga Rasulullah menegurnya. Namun ternyata perempuan itu menolak Karena beratnya kesedihannya. Ketika diberi tahu bahwa yang menegur adalah Rasullah maka bergegasnya ia menuju ke rumah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan meminta maaf. "Saya bersabar ya Rasulullah." kemudian Rasulullah menjawab,
الصبر عند الصدمة الأولى
Sabar itu letaknya di awal musibah

Kenapa demikian ? karena ujian hati berupa kesabaran itu datangnya di awal kejadian, selanjutnya kita dituntut untuk berupaya yang keras untuk menyelesaikan ujian itu. Jadi bukan apatis, atau pasrah tanpa berbuat apa-apa.

Sungguh ujian yang diberikan Allah untuk disikapi dengan positif…

Ketika kita diuji dengan kekayaan, maka semoga kekayaan itu dapat menjadi bekal kita menuju Allah. Ketika kita diuji dengan kemiskinan, semoga kemiskinan itu menjadikan kita selalu optimis menjemput rizkiNya dengan keras dan antusias. Bukan meminta-minta atau berusaha dengan cara yang haram dan menghalalkan segala cara.

Ketika kita diuji dengan musibah, kita ambil hikmah dan mencari langkah dan cara apa yang seharusnya kita lakukan untuk menghadapinya… sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala

الَّذِينَ إِذَآ أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا للهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'."(Al-Baqarah: 155 – 156).
 Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepadaNyalah kami kembali..
 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمسْلِماَتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
 
Ada beberapa fadhilah yang Allah berikan kepada orang-orang yang mampu bersabar.
Pertama, Allah akan mengantarkannya orang-orang yang sabar menuju kepada keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Firman Allah Subhanahu Wata'ala:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran: 200).
Allah subhanahu wata’ala memberikan keberuntungan kepada orang-orang yang sabar...

Kedua, Allah akan memberikan pahala orang-orang yang bersabar dan akan dilipatgandakan dengan hitungan yang tanpa batas. Firman Allah :
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas." (Az-Zumar: 10).

Luar biasa... hanya orang-orang yang bersabar yang akan memperoleh pahala dan ganjaran tak terhingga dari Alloh subhanahu wata’ala

Ketiga, Allah memberikan kejayaan dan kepemimpinan sebagai buah atas kesabaran kita dan keyakinan kita yang tinggi terhadap ayat-ayat Allah ta’ala. Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ
"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajadah: 24).

Keempat, Allah member kekuatan dan kemenangan, Firman Allah Subhanahu Wata'ala :
وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Dan taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46).

Kelima, Sabar menjadi tameng dari musuh-musuh Allah dan musuhkeimanan
Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةُُ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةُُ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطُُ
"Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit-pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (Ali Imran: 120).

Keenam, Diakhirat para malaikat di akhirat kelak kepada orang-orang yang bersabar,Allah swt berfirman :
سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
"(Sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima shabartum.'Keselamatan bagi kalian... Dengan kesabaran yang telah kalian lakukan.... Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 23 – 24).

Dan yang terakhir... kesabaran kita mengantarkan kita menjadi golongan yang dicintai Allah,.... yang tidak lain balasannya adalah kehidupan bahagia di dunia dan keselamatan dan kebahagiaan di akhirat... Wallahu Alam bish shawab

LGBT DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Ikhwatal iman yang dirahmati Allah swt. Sebagaimana yang kita ketahui, beberapa waktu terakhir ini, media nasional tengah sibuk menyoroti maraknya kampanye kelompok-kelompok LGBT yang mengklaim bahwa mereka adalah kelompok biasa saja, yang tidak membahayakan sama sekali, bahkan mereka mengatakan hanya membutuhkan keadilan dan toleransi dari semua pihak. Pada hakikatnya, fenomena LGBT sudah masuk ke Indonesia sejak lama. Pada tahun 2006 sempat mencuat isu LGBT, namun kembali reda seiring tahun 2008 terjadi krisis ekonomi yang cukup parah. Kini, kelompok yang berpanjikan pelangi tersebut kembali mencoba untuk secara terbuka di depan masyarakat untuk menunjukkan bahwa mereka orang yang biasa saja, sama seperti yang lainnya. Bahkan, mereka sudah tidak malu menunjukkan bahwa mereka LGBT secara in action di tempat-tempat umum. Berbagai diskusi ilmiah, diskusi panel, talkshow, seminar, dll diadakan untuk mengedukasi masyarakat terkait fenomena LGBT yang ada sekarang ini. Pada kesempatan kali ini, saya ingin coba sedikit mengupas terkait LGBT dalam perspektif islam. Namun sebelum masuk kesitu, ada baiknya kita mengenal dulu apa itu LGBT.

MENGENAL LGBT
LGBT merupakan sebuah akronim dari Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender. Dalam dunia kedokteran jiwa, atau psikiatris LGB digolongkan pada mentally disorder atau kelainan mental. Dalam psikologi LGB atau biasa disebut sexual orientation disorder atau kelainan orientasi sexual bisa terjadi oleh beberapa faktor. Bisa karena trauma berkepanjangan yang dialami oleh pelaku, bisa kerusakan otak karena pornografi, bisa karena hasrat sex yang sejak awal salah penyalurannya, bisa salah asuhan atau menerima pendidikan sex yang salah sejak dini, dll. Gay adalah istilah untuk aktifitas seksual yang dilakukan antara laki-laki dengan laki-laki. Salah satu aktifitas utama kaum gay dalam menyalurkan hasrat seksual mereka adalah sodomi (liwath) , yang secara istilah Syar’i definisinya adalah memasukkan kepala dzakar penis kedalam dubur pria lainnya. 

Selain gay, adapula yang disebut Lesbian. Secara harfiah lesbian merupakan sebuah perilaku sex yang dilakukan sesama jenis antara seorang wanita dengan wanita lainnya. Umumnya lesbian terjadi karena trauma psikis yg dialami oleh seorabg wanita karena suatu hal yang menyebabkan ia membenci lawan jenisnya.

Selain Lesbian dan Gay, adapula yang disebut Bisexual. Bisexual ini secara maknawi seorang bisexual ia bisa melakukan sex baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Atau disebut juga orientasi sex ganda. Berbeda dengan Lesbian dan Gay, Bisexual lebih sulit dideteksi karena secara kasat mata ia akan terlihat normal di depan siapapun. Namun jika diamati terus menerus tentunya akan terlihat perbedaan prilaku yang cukup mencolok dari orang normal lainnya.

Yang terakhir adalah transgender. Transgender bermakna berpindah gender. Semisal seorang pria berubah menjadi seorang wanita. Namun para ahli sepakat bahwa transgender bukan hanya berpindah gender saja, namun sampai pada tahap mengganti alat kelaminnya.

HOMOSEXUAL DALAM PANDANGAN ULAMA, QUR'AN DAN SUNNAH
Perbuatan sodomi (liwath) tersebut adalah perbuatan yang diharamkan berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan Al-Ijma’. Allah Ta’ala telah mengharamkan perbuatan sodomi ini di dalam Al
Qur’an dan As-Sunnah, oleh karena itulah, para ulama bersepakat Al-Ijma’) atas keharaman sodomi ini, sebagaimana hal ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah :
أجمع أهل العلم على تحريم اللواط ، وقد ذمه الله تعالى في كتابه ، وعاب من فعله ، وذمه رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Ulama bersepakat atas keharaman sodomi liwath). Allah Ta’ala telah mencelanya dalam Kitab-Nya dan mencela pelakunya, demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mencelanya”.
Berikut saya paparkan sedikit dalil-dalil dari Qur'an terkait hinanya perilaku homosexual atau liwath :
Allah Ta’ala berfirman :
{وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ}
Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun di dunia ini sebelum kalian” [Al-A’raaf: 80].
Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menyebutkan bahwa perbuatan sodomi antar sesama pria, yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth ‘alaihis salam, merupakan perbuatan فاحشة. Sedangkan فاحشة adalah suatu perbuatan yang sangat hina dan mencakup berbagai macam kehinaan serta kerendahan.
Hal ini sebagaimana penafsiran ahli tafsir, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah, ketika beliau menjelaskan فاحشة dalam ayat ini,
الخصلة التي بلغت – في العظم والشناعة – إلى أن استغرقت أنواع الفحش
 “Perbuatan yang sampai pada tingkatan mencakup berbagai macam kehinaan, jika ditinjau dari sisi besarnya dosa dan kehinaannya!”. [Tafsir As-Sa’di] 

Dan firman Allah Ta’ala :
{مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ}
“…yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun di dunia ini sebelum kalian"   [Al-A’raaf: 80].

Maksudnya : bahwa perbuatan sodomi yang telah dilakukan kaum Nabi Luth ‘alaihis salam tersebut, belumlah pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum mereka. Hal ini disebabkan sodomi itu adalah perbuatan menyelisihi fitroh yang sangat tidak lazim, karena seorang laki-laki mensetubuhi dubur laki-laki lain, sedangkan di dalam dubur itu adalah tempat kotoran besar yang bau, kotor, jorok. Jangankan dubur laki-laki, dubur istri saja Rasulullah saw haramkan dari memasukinya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw :
 مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا
“Benar-benar terlaknat orang yang menyetubuhi istrinya di duburnya.” (HR. Ahmad 2: 479. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits tersebut hasan)

Di hadits lain, Rasulullah saw memperingatkan
مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم-
“Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Selain termasuk pada golongan orang-orang yang hina, Allah swt pun menyebut para pelaku homosexual sebagai orang-orang yang melampaui batas. Sebagaimana firman Allah ta'ala 

{إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ}

Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas. [Al-A’raaf: 81].

Pakar ilmu tafsir, Al-Baghawi rahimahullah, menjelaskan makna مسرفين (melampui batas)” dalam ayat ini,

مجاوزون الحلال إلى الحرام

“Melampui batasan yang halal beralih) kepada perkara yang haram”. [Tafsir Al-Baghawi].

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata :

متجاوزون لما حده اللّه متجرئون على محارمه

“Melampui batasan yang telah Allah tetapkan lagi berani melanggar larangan-Nya yang haram dikerjakan”. [Tafsir As-Sa’di] 

Dalam ayat selanjutnya, Allah pun menyebut pelaku homosexual sebagai pelaku kriminal. Allah swt berfirman 
  
{وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ}

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kriminal itu. [Al-A’raaf: 84].

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala menyebut kaum Nabi Luth ‘alaihis salam yang melakukan perbuatan sodomi tersebut dengan sebutan “para pelaku kriminal”!
Dengan demikian, mereka ini sesungguhnya layak untuk disebut “penjahat seksual”, karena telah melakukan kejahatan kriminal) dalam menyalurkan hasrat seksual mereka ditempat yang terlarang.

Selain Allah menyebut pelaku homosexual atau sodomi, dsb sebagai penjahat kriminal, hina, dll, Allah pun menyebut mereka sebagai orang-orang yang dzhalim. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-‘Ankabuut 30-31:

{قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ}

(Nabi Luth) berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan adzab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”. 

 {وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ ۖ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ}

Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zhalim“.

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata :
  
فأيس منهم نبيهم، وعلم استحقاقهم العذاب، وجزع من شدة تكذيبهم له، فدعا عليهم و { قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ } فاستجاب اللّه دعاءه.

“Maka Nabi mereka Luth) putus asa terhadap taubatnya) mereka, sedangkan beliaupun mengetahui bahwa kaumnya memang layak mendapatkan adzab dan beliau mengeluh (kepada Rabbnya) akan sikap mereka yang mendustakan diri beliau. Lalu beliaupun “Berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan adzab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”, maka Allah pun mengabulkan do’a beliau”

HUKUMAN BAGI PELAKU HOMOSEXUAL
Dalam berbagai haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan dengan jelas berbagai hukuman bagi para pelaku homosexual. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad 2915) dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma Rasulullah dengan tegas melaknat para pelaku homosexual. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

( لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ ، ثَلاثًا )

“Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, beliau sampaikan sampai tiga kali ”. [Dihasankan Syaikh Syu’aib Al- Arna`uth].

Jumhur ulama sependapat terkait laknat Allah swt kepada seseorang. Ketika Allah melaknat seseorang maka dengan kata lain Allah menutup semua pintu rahmat dan keberkahannya hingga ia benar-benar bertaubat. Bahkan Allah membukakan pintu neraka selebar-lebarnya bagi mereka yang dilaknat oleh Allah swt.

Selain Allah melaknat pelaku homosexual, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa pelaku sodomi (homosexual) dan pasangannya itu mendapatkan dihukum mati. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
  
( مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ )

“ Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya” [HR Tirmidzi dan yang lainnya, dishahihkan Syaikh Al-Albani]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa para sahabat telah sepakat (berijma’) bahwa pelaku liwath harus dibunuh. Akan tetapi mereka berselisih bagaimana hukuman bunuhnya? Sebagian ulama mengatakan bahwa pelaku liwath mesti dibakar dengan api karena besarnya dosa yang mereka perbuat. Ulama lainnya mengatakan bahwa pelaku liwath mesti dirajam (dilempar) dengan batu. Ulama lainnya lagi mengatakan bahwa hukuman bagi pelaku liwath adalah dibuang dari tempat tertinggi di negeri tersebut, kemudian dilempari dengan batu. Intinya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ingin menjelaskan bahwa pelaku liwath mesti dibunuh berdasarkan kesepakatan para sahabat. Seperti kita ketahui bersama bahwa ijma’ (kesepakatan) para sahabat adalah hujjah (argumen) yang kuat dan bisa mendukung hadits di atas. 

Dalam QS. Al-Hijr: 73-76, Allah Ta’ala mengkabarkan tentang adzab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth ‘alaihis salam , yaitu berupa siksaan yang sangat mengerikan,

{فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ}

73) Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit.

{فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ}

74) Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.

{إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ }

75) Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.

HUKUM TRANSGENDER
Tentunya banyak dari kita belakangan ini menyaksikan waria mengamen di pinggir jalan, atau acara-acara tv yang mempertontonkan seorang pria berperan sebagai wanita, dsb. Atau pernah juga kita mendengar berita tentang seorang artis yang rela mengeluarkan milyaran rupiah demi menggantu kemaluannya menjadi kemaluan wanita. Pada hakikatnya itu semua merupakan sekelumit contoh transgender yang terjadi di sekitar kita. 

Dalam DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) – III, penyimpangan ini disebut sebagai juga gender dysporia syndrome. Penyimpangan ini terbagi lagi menjadi beberapa subtipe meliputi transseksual, a-seksual, homoseksual, dan heteroseksual.

 Transeksual dapat diakibatkan faktor bawaan (hormon dan gen) dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan di antaranya pendidikan yang salah pada masa kecil dengan membiarkan anak laki-laki berkembang dalam tingkah laku perempuan, pada masa pubertas dengan homoseksual yang kecewa dan trauma, trauma pergaulan seks dengan pacar, suami atau istri. Perlu dibedakan penyebab transseksual kejiwaan dan bawaan. Pada kasus transseksual karena keseimbangan hormon yang menyimpang (bawaan), menyeimbangkan kondisi hormonal guna mendekatkan kecenderungan biologis jenis kelamin bisa dilakukan. Mereka yang sebenarnya normal karena tidak memiliki kelainan genetikal maupun hormonal dan memiliki kecenderungan berpenampilan lawan jenis hanya untuk memperturutkan dorongan kejiwaan dan nafsu adalah sesuatu yang menyimpang dan tidak dibenarkan menurut syariat islam.

Adapun hukum operasi kelamin dalam syariat Islam harus diperinci persoalan dan latar belakangnya. Berikut kutipan fatwa dari Fatawa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih,

فظاهرة تحويل الجنس لها حالتان:
الأولى: أن تثبت التقارير والفحوصات الطبية الموثوقة أن أحد الجنسين يحمل في الحقيقة جهازا تناسليا مخالفا لما يظهر كأن تكون المرأة تحمل جهازا ذكوريا والرجل بالعكس, وحينئذ فلا حرج في إجراء عملية تحويل الجنس

Tentang transgender, ada dua keadaan:

Pertama, terdapat keterangan dan hasil diagnosis medis yang terpercaya bahwa salah satu alat kelamin tumbuh sebagai organ reproduksi yang berbeda dengan ciri fisik yang dominan. Seperti wanita yang memiliki alat kelamin laki-laki, atau sebaliknya lelaki memiliki alat kelamin wanita. Dalam kondisi ini tidak masalah dilakukan tindakan transgender.

Kedua,

الثانية: أن تثبت التقارير والفحوصات الطبية عكس ذلك وهو أن الرجل يملك جهازا ذكوريا والمرأة جهازا أنثويا وحينئذ يكون تغيير الجنس في هذه الحالة محرما بلا خلاف سواء تم بتدخل جراحي، أو عن طريق أخذ الهرمونات ونحوها

terdapat keterangan dan hasil diagnosis medis kebalikan dengan yang di atas, lelaki memiliki alat kelamin laki-laki, wanita memiliki alat kelamin wanita. Dalam kondisi ini, melakukan transgender adalah tindakan yang haram tanpa ada perselisihan ulama. Baik dengan cara operasi atau dengan interfensi hormon atau metode lainnya.

(Fatawa Syabakah Islamiyah, 151375)

Rincian lainnya disebutkan dalam Fatawa Islam,

والعملية الجراحية الجائزة في هذا : إذا كان الشخص قد خلق من الأصل ذكراً أو أنثى ، ولكن أعضاءه غير ظاهره ، فيجوز إجراء عملية جراحية لإظهار تلك الأعضاء ، وإعطاء الشخص أدوية أو هرمونات لتقوية أصل الخلقة التي خلقه الله عليها .

Operasi transgender diperbolehkan dalam kodisi apabila seseorang diciptakan sejak awal sebagai laki-laki atau perempuan, namun organ kelaminnya belum nampak. Karena itu dibolehkan mengambil tindakan operasi untuk merangsang pertumbuhan alat kelamin tersebut, atau dengan memberikan obat-obatan atau hormon untuk mengembalikan asal penciptaannya. 

Selain berganti alat kelamin, yang marak pula adalah munculnya banci-banci atau waria-waria. Secara hukum jelas, tidak ada ulama yang berselisih pendapat terkait keharamannya. Rasulullah dengan tegas melaknat siapa saja lelaki yang berpenampilan seperti wanita, dan sebaliknya. Sebagaimana hadits Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885).

Dalam lafazh Musnad Imam Ahmad disebutkan,
لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu pula wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Ahmad no. 3151, 5: 243. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari).

Begitu pula dalam hadits Abu Hurairah disebutkan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Ahmad no. 8309, 14: 61. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, perowinya tsiqoh termasuk perowi Bukhari Muslim selain Suhail bin Abi Sholih yang termasuk perowi Muslim saja). Dalam hadits terakhir ini yang dilaknat adalah gaya pakaiannya. Sedangkan hadits di atas adalah mode bergaya secara umum. 

KESIMPULAN
Jelaslah sudah bahwa dari semua poin-poin yang ada, tidak ada satu dalil atau ayat pun yang menjelaskan diperbolehkannya berbuat homosexual (lesbian, gay dan bisexual). Bahwa perbuatan homosexual merupakan perbuatan yang betul-betul Allah dan rasulnya benci. Secara hukum sudah jelas, bahkan kisah-kisah kaum sebelum kita telah mejadi contoh nyata akan kebenaran adzab Allah swt. Sementara terkait transgender, Allah dan Rasulnya masih memeperbolehkan dengan syarat mengganti kelamin dengan tujuan mentashih dan mentakmil. Semisal beralat kelamin ganda, ataupun hancur karena kecelakaan, dll. Maka itu dibenarkan. Namun jika bertujuan mengubah ciptaan Allah, pria mengikuti wanita atau sebaliknya, maka jelas semua ulama bersepakat akan keharamannya dan larangannya. Bahkan Rasulullah dengan tegas melaknat siapapun yang melakukannya.

Semoga Allah melindungi kita dari perilaku-perilaku tersebut, dan senantiasa membimbing kita di jalan yang lurus. اهدنا صراط المستقيم.

Wallahu 'alam bish shawab